MOTHER, CRAFTER



Pengalaman saya mungkin juga dialami oleh sebagian besar ibu rumah tangga yang sebelumnya punya segudang kesibukan sebagai perempuan pekerja. Kegalauan karena terlalu banyak waktu yang tersita untuk pekerjaan (apalagi pekerjaan lapangan), sehingga jarang sekali mempunyai waktu entah hanya untuk melihat anak bangun di pagi hari ataupun mencium mereka sebelum mereka tertidur. Hal itu saya alami, sehingga saya bertekad untuk lebih dekat dengan mereka tanpa harus kehilangan kesempatan berkarya. Apakah memungkinkan?

Ada beberapa opsi yang sempat saya jalani, seperti menerima pekerjaan menerjemahkan secara freelance, berjualan online, dll. Tapi kendala bermunculan seiring waktu, harus bersahabat dengan deadline di kala pekerjaan rumah menumpuk sementara anak-anak juga menuntut waktu dan perhatian. Ditambah dengan keinginan untuk menghasilkan karya sendiri yang semakin kuat dalam artian memproduksi sesuatu sesuai dengan ide dan konsep saya sendiri, bukan lagi menjadi reseller.

Moris Diak menjadi jawaban atas kegelisahan saya. Saya belajar untuk memproduksi craft yang “gue banget” , dengan menggunakan bahan yang saya sukai, teknik yang saya kuasai secara otodidak, dikemas dengan konsep yang saya inginkan. Awalnya memang Moris Diak dikerjakan sekedar sebagai pengisi waktu dan sarana menuangkan segala macam benang kusut yang ada di kepala saya. Tapi kemudian dalam perkembangannya, saya berusaha mengelolanya menuju sebuah bisnis yang serius.

Saya tidak akan belajar, jika perjalanan ini begitu mulus dan tanpa tantangan. Keterbatasan modal jelas menghantui sebuah usaha skala kecil seperti ini. Tapi saya mencoba menanamkan dalam pikiran saya bahwa modal itu tidak selalu sama dengan nominal. Lebih jelilah melihat celah di mana pun, kenali semua potensi.  Fokus optimalkan apa yang sudah tersedia, jangan terlalu terpaku untuk hal-hal yang belum ada. Menjadi “single parent” (karena LDR) juga menguras tenaga dan waktu karena saya harus tetap menjaga komitmen untuk selalu ada untuk anak-anak saya. Memutuskan untuk terjun ke dunia craft tanpa background seni dan desain juga menuntut saya untuk belajar banyak skill baik secara otodidak melalui internet, buku dan resources lainya, serta tidak malu untuk bertanya pada rekan-rekan crafter atau desainer lainnya.

Perjalanan saya dengan Moris Diak memang baru seumur jagung, tapi saya belum dan tidak mau menyerah. Meski belum bisa melangkah dengan kecepatan maksimum, saya tetap akan bergerak. Kalau saya ibaratkan, saya seperti sedang memasak rendang dengan bumbu aneka rupa tanpa harus terburu-buru untuk mendapatkan hasil yang lebih maknyus. Terima kasih untuk keluarga dan sahabat yang terus mendukung langkah saya. Terima kasih juga untuk para customer yang dengan sabar ikut terlibat dalam setiap perkembangan Moris Diak.


Best Regards,
Mila

Comments

Popular Posts