Mimpi dan Karya







“Ibu berasal dari NTT?” dan “Apa makna motif yang dipakai untuk tas yang ibu buat?”

Dua pertanyaaan yang paling sering diajukan oleh para pelanggan MORISDIAK kepada saya, baik ketika kami bertemu langsung ataupun melalui sosial media. Saya menemukan ada beberapa alasan yang mendorong mereka untuk menyampaikan pertanyaan tersebut.

Pertama dari nama brand yang saya pilih, MORISDIAK, yang terdengar asing bagi sebagian orang karena diambil dari bahasa Tetun, yang berarti hidup yang baik dan indah. Nama brand ini terinsipirasi dari bahasa yang saya pelajari saat saya tingga dan bertugas di Atambua, Belu, NTT. Saya memaknainya sebagai sebuah filosofi timur yang menggambarkan mengenai sebuah upaya mewujudkan suatu kehidupan yang baik, bermakna, harmonis dan sejahtera.

Hal kedua, mengenai logo yang diambil dari salah satu tenun ikat Flores, NTT yang berupa grafis manusia menunggang kuda. Motif ini disebut jarang atabiang, merupakan motif sarung tenun perempuan Sikka, Flores. Motif yang biasanya dikenakan saat upacara kedukaan ini sejatinya menggambarkan perjalanan manusia menuju alam baka kemudian diadaptasi menjadi logo brand dengan menyematkan warna merah sebagai simbol energi dan keberanian untuk memaknai ulang sebagai bentuk perjalanan untuk mewujudkan suatu kehidupan yang baik, bermakna, harmonis dan sejahtera sebelum mencapai alam baka.

Jika menilik nama saya yang sama sekali tidak menunjukkan unsur “timur” maka muncullah pertanyaan berikutnya, mengapa memilih tenun NTT bukan batik atau ulos yang lebih mewakili identitas budaya (suku) saya? Saya tertarik dengan berbagai kain tradisional karya perempuan Indonesia dari berbagai daerah dan saya memiliki harapan untuk bisa mengeksplorasi suatu saat nanti ke dalam karya saya. Tapi saya tidak bisa menampik bahwa tenun NTT telah menjadi drive penggerak dan passion terbesar saat saya mendirikan MORISDIAK. Saya melihatnya bukan sebagai suatu perbedaan yang memisahkan tapi justru tantangan bagi “orang luar” seperti saya untuk bisa mempelajari tenun NTT dalam suatu proses yang utuh.

Mengenal dan mengolah tenun NTT artinya juga mempelajari banyak hal melalui satu media kain. Perjalanan saya dalam MORISDIAK menuntun saya untuk mengenali banyak komponen yang terkandung dalam sehelai tenun. Saya tidak memungkiri bahwa hal pertama yang menarik adalah motifnya. Motif yang beraneka ragam dengan warna-warna yang hidup adalah daya tarik yang menakjubkan dari tenun NTT. Tapi kemudian hal ini mengusik saya dan memunculkan pertanyaan dalam benak saya, apa makna dari motif tersebut dan bagaimana proses yang harus dilalui untuk melahirkan motif tersebut? Apakah ini hanya sekedar motif dekorasi atau justru sebaliknya ini merupakan media penulisan nilai-nilai sejarah, budaya, dan filosofis bagi perempuan NTT?

Pertanyaan di awal tulisan ini dan pertanyaan di atas kemudian menjadi bahan renungan panjang bagi saya selama berproses dalam MORISDIAK. Apakah produk kami sudah mampu menceritakan bagian tersebut? Apa yang telah kami lewatkan dalam proses mengemas kain tenun ke dalam bentuk yang lebih modern dan fungsional saat ini? Nampaknya memang ada cara pandang yang harus kami perbaiki dalam internal MORISDIAK ketika melihat tenun karya perempuan NTT tersebut.

Berproses dengan kain-kain tenun NTT dalam MORISDIAK dan pengalaman kunjungan lapangan selama bertugas ke berbagai kabupaten di NTT juga membuat saya belajar mengenai tantangan yang dihadapi oleh para penenun, sebut saja akses bahan baku yang sulit dan mahal ketika mereka sudah tidak lagi mengolah kapas, anomali cuaca ekstrim yang tidak mendukung penanaman kapas, tanaman pewarna alam yang mulai punah, pengetahuan mengelola pewarna alam, kurangnya minat generasi muda untuk meneruskan budaya menenun, sulitnya akses pemasaran, pergeseran makna tenun dari sebuah hasil budaya menjadi komoditas mengejar produktivitas untuk dapat memenuhi permintaan pasar, celah yang timbul akibat permintaan pasar yang tidak diimbangi dengan penyampaian makna sejarah, budaya, dan filisofi dalam motif (simbol rupa), dan peniruan motif secara besar-besaran yang dilakukan oleh industri tenun di daerah lain, dst.

Ada begitu banyak permasalahan yang muncul ketika saya mencoba menapaki hilir tenun NTT bersama  MORISDIAK dan mau tidak mau membuat saya untuk menoleh dan menelisik apa saja yang terjadi pada hulunya. Hal ini yang kemudian saya utarakan ketika bertemu dengan sahabat saya, Nadiyah Tunnikmah, seorang perupa dan dosen di ISI Yogyakarta. Rupanya beliau juga memiliki kegelisahan yang sama. Dan kemudian kami menyemai mimpi bersama untuk dapat melakukan penelitian mengenai tenun NTT.

Tahun ini melalui Hibah Cipta Media Ekspresi, kami mencoba mengajukan proposal project kolaborasi kami yang pertama “Tenun NTT: Menelisik Hulu Menapak Hilir” yang dapat dikatakan sebagai baseline survey atau pemetaan awal mengenai tenun NTT yang akan dilakukan di 21 Kabupaten di NTT. Kegiatannya akan meliputi pengambilan data kualitatif, penerbitan buku dan pameran. Tentu saja jika project ini disetujui kami akan bekerja sama dengan partner lokal seperti kelompok-kelompok tenun di NTT selama proses berlangsung untuk dapat mengidentifikasi permasalahan secara tepat sekaligus dapat membuat rekomendasi untuk penanganannya sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh semua pihak terkait.

Saya juga berharap melalui kerja kolaborasi dalam penelitian ini, saya mendapatkan referensi yang cukup bagi pengembangan produk dalam MORISDIAK, sehingga saya tidak hanya mengemas tenun NTT sebagai komoditas semata, tapi juga sebagai upaya pelestarian nilai-nilai sejarah, budaya dan filosofis yang terkandung dalam setiap helai tenun NTT.

Project ini mungkin dapat dikatakan sebagai mimpi kami yang idealis dan ambisius yang jelas memerlukan resources yang sangat besar dan kerjasama banyak pihak. Langkah awal kami tentu saja harus mulai mengetuk pintu, salah satunya melalui Hibah Cipta MediaEkspresi ini dan terus mencari celah terobosan yang lain. Dan tidak peduli berapa kali dan berapa lama saya harus mengetuk pintu, saya yakin mimpi ini akan menemukan jalannya untuk mewujud nyata pada saatnya. 




Comments

Popular Posts