About Us


Morisdiak terinspirasi dari perjalanan saat saya bertugas dalam sebuah lembaga kemanusiaan yang berfokus pada isu anak dan pendidikan di NTT. Saya sempat tinggal dan bertugas di Atambua, Kabupaten Belu, NTT pada tahun 2008-2010, dan banyak melakukan perjalanan ke wilayah-wilayah yang lebih tersembunyi di Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka (sekarang merupakan pemekaran dari Kabupaten Belu), dan Kabupaten TTU. Saya juga melakukan perjalanan tugas lagi pada tahun 2013-2014 dengan tujuan Kabupaten TTS dan Sikka (Flores). Selama perjalanan tersebut, saya berinteraksi dengan masyarakat dan mengenal hasil budaya mereka yaitu tenun. Setelah kelahiran anak kedua saya, saya kemudian memutuskan untuk tidak turun ke lapangan untuk sementara waktu  dan bekerja dari rumah untuk mengembangkan sebuah usaha rumahan yang sesuai dengan minat dan ketertarikan saya dalam craft dan desain.


Saya kemudian mulai mempelajari crafts secara otodidak sejak awal 2012 dengan membuat berbagai project sulaman, patchwork hingga bermain dengan tenun. Pada April 2014 saya memutuskan untuk masuk ke pasar craft dengan label morisdiak untuk menaungi produk saya yang mengombinasikan antara sulaman, tenun NTT dan kain-kain lokal lainnya. Morisdiak berasal dari bahasa Tetun-NTT, moris berarti hidup dan diak berarti baik atau indah. Saya memahaminya sebagai suatu filosofi timur mengenai sebuah tatanan hidup yang harmoni, baik, indah, dan sejahtera. 


Meskipun pada awalnya, project ini diinisiasi dan dikerjakan oleh saya sendiri, mulai dari perencanaan, desain, proses produksi, dan pemasaran, tapi seiring perjalanannya saya mulai melibatkan ibu-ibu yang lain dalam proses produksi morisdiak, meski masih dalam skala yang kecil. Saya juga membuka program kerjasama dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta untuk dapat berkolaborasi sesuai dengan latar belakang pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan yang mereka miliki.  Saya berharap apa yang kami lakukan melalui morisdiak dapat membawa dampak bagi perempuan pada umumnya, serta khususnya bagi perempuan pelaku budaya tenun di NTT.

Saat ini saya berharap untuk dapat bekerja sama dengan lebih banyak perempuan penenun di NTT, serta melakukan penelitian lebih lanjut mengenai nilai-nilai sejarah, kultural dan filosofi yang terkandung dalam tenun NTT, sehingga saya dapat menyajikan sebuah proses yang utuh dalam berkarya di morisdiak, sehingga morisdiak bukan saja bicara mengenai tenun sebagai sebuah komoditas, melainkan juga sebuah upaya pelestarian budaya yang dilakukan oleh perempuan penenun di NTT dan juga kita semua yang terlibat di dalamnya.
  

Salam,

Mila Mariana Wulandari

*Project ini juga saya persembahkan untuk kedua putri saya, Sekar Indonesiana Rohi Riwu dan Gita Amartha Wahi Rohi Riwu. Moris ne diak, Nai....

Comments

Popular Posts